Problematika Penggunaan Bahasa Gaul Dalam Media Sosial Dan Realitas Kebahasaan Pada Generasi Muda

 Problematika Penggunaan Bahasa Gaul Dalam Media Sosial Dan Realitas Kebahasaan Pada Generasi Muda

Azhar Ahmad Fauzy1 , Kharisma Haru P. T2 , Natassa Inge Putri Yastuti3 , umara wira yudha yahya4 , Nashwa Fakhriya Aziza5 

Program Studi Desain Grafis, Fakultas Vokasi, Universitas Brawijaya, Kunci, Kalisongo, Kec. Dau, Kab. Malang, Jawa Timur 65151 

E-mail: azharahmadf@student.ub.ac.id1 , kharismaharu@student.ub.ac.id2 , natassainge@student.ub.ac.id3 , umarawira@student.ub.ac.id4 , nashwaziza@student.ub.ac.id5 

Abstrak 

 Penelitian ini bertujuan untuk meneliti tentang penggunaan bahasa gaul dalam media sosial sehari-hari di kalangan remaja. Saat ini sudah terdapat beberapa variasi gaya bahasa yang digunakan di lingkungan masyarakat. Adanya variasi gaya bahasa dipicu oleh perkembangan teknologi komunikasi yang berkembang sangat pesat. Terjadinya fenomena ini mendorong kami melakukan penelitian untuk memahami pengaruh penggunaan bahasa gaul dalam media sosial dan bagaimana pengaruhnya. Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa adanya problematika pemakaian bahasa dwibahasa atau bahkan multibahasa yang menyebabkan kebiasaan berbahasa gaul pada kelompok tertentu sehingga menghasilkan istilah baru dengan bermakna konotasi negatif yang banyak digunakan pada aktivitas sehari-hari. Kebanyakan dari mereka lebih percaya diri, keren, ‘gaul’ dengan kosa kata campuran bahasa tersebut yang sudah tidak asing bagi mereka. Hal ini mengakibatkan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar saat ini sudah mulai tergeser keberadaannya oleh bahasa gaul dan merasa terbiasa penggunaan bahasa ini di pergaulan remaja. 

Kata kunci : Bahasa gaul, sosial media, komunikasi 

Abstract 

This study aims to examine the use of slang in everyday social media among adolescents. Currently there are several variations of language styles used in the community. The existence of variations in language style is triggered by the development of communication technology which is developing very rapidly. The occurrence of this phenomenon prompted us to conduct research to understand the effect of using slang in social media and how it affects it. The results of this study indicate that there are problems with the use of bilingual or even multilingual languages which cause slang in certain groups to produce new terms with negative connotations that are widely used in daily activities. Most of them are more confident, cool, 'slang' with a mixed vocabulary of languages that are familiar to them. This has resulted in the use of Indonesian which is good and correct at this time, its existence has begun to be displaced by slang and people feel accustomed to using this language in adolescent associations.

 Keywords: Slang, social media, communication 

PENDAHULUAN 

Bahasa adalah salah satu cara kita berkomunikasi dengan orang lain. Dengan bahasa, seseorang dapat mengkomunikasikan pendapat, pandangan, gagasan tentang sesuatu kepada orang lain. Bahasa adalah sistem komunikasi manusia yang diekspresikan melalui susunan suara atau ekspresi tertulis yang terstruktur untuk membentuk unit yang lebih besar, seperti morfem, kata, dan kalimat.(Richards, Platt & Weber, 1985:153). Bahasa dinyatakan sebagai alat interaksi antar manusia dalam kehidupan bermasyarakat yang bersifat sosial, yaitu yang penggunaannya dapat digunakan dan dipahami oleh seluruh anggota masyarakat, namun seiring dengan perubahan zaman, bahasa juga dapat berkembang.

 Perkembangan teknologi mendorong kaum milenial untuk dapat mengakses dan mengambil informasi dengan sangat cepat. Informasi dapat menyebar dengan sangat cepat di kalangan anak muda dan orang tua, menciptakan tren. Kecenderungan inilah yang menyebabkan terjadinya perubahan budaya masyarakat dalam jangka pendek maupun panjang, salah satunya adalah penggunaan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Pengaruh ini diperkuat dengan munculnya jejaring sosial sebagai sarana interaksi masyarakat. Slang adalah gaya bahasa yang merupakan evolusi atau modifikasi dari banyak bahasa yang berbeda, termasuk bahasa Indonesia, sehingga bahasa gaul tidak memiliki struktur stilistika yang pasti ((Nurhasanah, 2014). 

Efek ini sering terjadi karena perubahan komunikasi tatap muka. Pengaruh media sosial memainkan peran penting dalam mengubah cara orang berkomunikasi secara tatap muka. Orang yang terbiasa menggunakan media sosial akan kesulitan menggunakan bahasa formal dan informal. Pembatasan ini tentunya dapat mempengaruhi penggunaan bahasa formal dan informal sehingga menimbulkan kesalahan dalam penggunaan kata. 

Fenomena ini mendorong kami untuk melakukan penelitian untuk memahami bagaimana media sosial memengaruhi penggunaan bahasa Indonesia, dan apakah bahasa gaul dalam media sosial dapat memengaruhi batasan antara bahasa formal dan informal. Selain itu, kita juga akan melihat bagaimana media sosial memengaruhi cara kita berkomunikasi sehari-hari. Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi referensi dan pengembangan pada penelitian selanjutnya. 

METODE 

 Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif. Menurut Bogdan dan Taylor Moleong, metode kualitatif adalah studi yang menghasilkan data deskriptif berupa teks atau ucapan manusia atau perilaku yang dapat diamati (Bogdan, 2012). Alasan menggunakan metode ini. Dengan kata lain, data diungkapkan dalam bentuk opini, pandangan, komentar, kritik, alasan, dan lainlain. Dilihat dari lokasinya, jenis penelitian ini adalah observasional. Masalah penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Penelitian ini mencoba untuk lebih memahami pengaruh media sosial terhadap penggunaan bahasa formal dan formal. 

Pengambilan sampel data dilakukan dengan menyebarkan pertanyaan mengenai pandangan, pendapat, dan komentar tentang fenomena pengaruh media sosial terhadap penggunaan bahasa formal dan informal resmi bagi mahasiswa di lingkungan Universitas Brawijaya. Menurut Sugiyono, sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik suatu populasi (Sugiyono, 2017). Arikunto dari Riduwan telah menyatakan bahwa sampel adalah bagian dari populasi yang representatif (bagian atau perwakilan dari populasi yang diteliti) (Arikunto, 2014). Sampel penelitian adalah sebagian dari populasi yang diambil sebagai sumber data dan dapat mewakili seluruh populasi. 

 HASIL DAN PEMBAHASAN 

 Penelitian dilakukan dengan mewawancarai mahasiswa dengan target responden mahasiswa Universitas Brawijaya. Kuesioner yang diberikan kepada responden berupa argumen dan pendapat dari responden untuk bisa mengetahui secara objektif pengalaman responden dalam merespon fenomena pengaruh bahasa gaul dalam media sosial terhadap penggunaan bahasa Indonesia. 

 Pertama-tama, kami menanyakan setiap responden mengenai ada berapakah bahasa yang mereka kuasai saat ini. Kami mendapat 34 data dari responden kami dengan jawaban 1(2,9%) dari mereka menguasai 1 bahasa, 14 (41,2%) responden menguasai 2 bahasa, 8 (23,5%) responden menguasai 3 bahasa, 7 (20,6%) responden menguasai 4 bahasa, dan sisanya 4(11,8%) responden menguasai 5 bahasa. 

Dari data yang diperoleh, sebagian besar responden menguasai 2 bahasa yaitu 


 Bahasa Indonesia dan bahasa daerah mereka. Selebihnya responden menguasai beberapa bahasa asing untuk berkomunikasi. Hal ini bisa terjadi karena mereka hidup di lingkungan masyarakat yang menggunakan bahasa daerah tersebut untuk berkomunikasi pada kesehariannya. Ketika seseorang mulai belajar menguasai bahasa pertama (B1) mereka hidup dan tinggal di lingkungan masyarakat penutur B1 tersebut, berusaha menguasai B1 untuk keperluan hidup dengan masyarakat sekitarnya. Dan tidak mungkin bisa hidup tanpa menguasai bahasa masyarakatnya. Selain itu, mereka memperoleh situasi kondusif karena semua orang di lingkungannya menggunakan bahasa secara aktif. Bahkan jika tidak mampu menguasai bahasa masyarakat sekitarnya, mereka tidak memiliki identitas diri sebagai anggota masyarakat. Proses ini terjadi secara alamiah dan tidak ada satu orang pun yang gagal menguasai B1-nya (Pranowo, 2014:73-74).

 Berikutnya kami menanyakan pendapat responden untuk memastikan apabila responden tahu mengenai batasan antara bahasa formal dan informal, kami memberikan pertanyaan kepada responden untuk mengetahui seberapa besar wawasan pengetahuan responden mengenai fenomena pencampuran bahasa. Sebagian besar responden menjawab bahwa fenomena pencampuran bahasa merupakan fenomena dimana terjadi pencampuran bahasa yang disebabkan karena masyarakat sering mendengar atau membaca atau bahkan menjadikannya sebagai bahasa sehari-hari salah satunya perantaranya adalah media sosial. Terjadinya fenomena tersebut karena adanya globalisasi. Globalisasi menyebabkan pesatnya perkembangan teknologi informasi sehingga berdampak pada seluk beluk kehidupan manusia dalam banyak aspek. Salah satu aspek yang paling terdampak adalah kebudayaan dalam berbahasa. Pencampuran bahasa ini juga terjadi karena ada faktor jarak kekuasaan atau dalam istilah komunikasi dikenal dengan power distance. Artinya, fenomena ini terjadi karena kekuasaan lingkungan sekitar dalam berbahasa sehingga masyarakat terbiasa mengikuti lingkungannya. 

 Selanjutnya kami memberikan pertanyaan tentang "Bagaimana tanggapan temanmu ketika kamu menggunakan bahasa gaul, seperti bahasa indonesia atau inggris?” Dan dari pertanyaan tersebut terdapat beberapa jawaban dari responden, paling banyak menjawab "biasa saja", dan ada beberapa yang menambahkan alasan seperti "biasa saja karena sering mendengarnya" "terkadang terdengar lucu" "terkadang terjadi miscommunication dan berdampak dimarahi" dan lainnya. 

 Kondisi umum yang terjadi di indonesia adalah dalam suatu masyarakat digunakan lebih dari satu bahasa. Situasi demikian disebut situasi bilingualisme (Mardikantoro, 2007). Tanpa disadari masyarakat indonesia sering kali memiliki problematika pemakaian bahasa karena masyarakat indonesia memiliki keahlian dwibahasa atau bahkan multibahasa. Penyebab situasi kebahasaan ini seminimalnya ditandai dengan pemakaian bahasa daerah dan bahasa ibu, bahasa indonesia sebagai bahasa nasional dan belum lagi era globalisasi yang membuat bahasa bahasa asing seperti halnya bahasa inggris masuk ke indonesia yang sadar atau tidak mulai bercampur kedalam pemakaian bahasa. 

 Terakhir pertanyaan berkaitan dengan pengaruh positif dan negatif dari penggunaan bahasa gaul dalam media sosial. Dari pertanyaan ini responden menyampaikan pengaruh dari penggunaan bahasa gaul dalam media sosial. Hasil yang menarik mayoritas responden mengungkapkan bahwa bahasa gaul merupakan sesuatu yang positif. Responden mengungkapkan bahasa gaul dapat memudahkan komunikasi mereka dengan lawan bicara. Jawaban berikutnya responden mengungkapkan bahwa penggunaan bahasa gaul dapat berdampak positif ataupun negatif tergantung penggunanya. Minoritas responden mengungkapkan bahwa bahasa gaul berdampak negatif karena dapat mempengaruhi penggunaan bahasa Indonesia, sehingga mengaburkan batasan antara bahasa formal dan informal.

 KESIMPULAN DAN SARAN 

 Berdasarkan hasil penelitian melalui pengambilan sampel data dengan kuisioner, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden menguasai 2 bahasa yaitu bahasa nasional atau bahasa Indonesia dan bahasa daerah mereka. Dengan menguasai bahasa-bahasa tersebut, terjadilah yang namanya fenomena pencampuran bahasa dan melahirkan bahasa gaul. Fenomena pencampuran bahasa ini disebabkan dari banyak hal seperti adanya globalisasi yang terjadi melalui media sosial, masuknya bahasa asing sehingga bercampur dengan bahasa Indonesia. Dengan adanya fenomena ini juga, masyarakat bisa saling mudah dalam berkomunikasi tetapi dengan meluasnya fenomena ini, bahasa indonesia maupun bahasa daerah bisa luntur dan memudarkan ciri khas daerah tersebut. Selain itu dampak penggunaan bahasa gaul juga dapat mengaburkan batasan antara bahasa formal dan informal. Kami berharap penelitian ini dapat dikembangkan lebih lanjut dan dijadikan sebagai referensi untuk penelitian selanjutnya. 

 DAFTAR PUSTAKA 

Arikunto, S. (2014). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta. 

 Bogdan, d. T. (2012). Prosedur Penelitian Dalam Moleong, Pendekatan kualitatif. Jakarta: Rineka Cipta. 

 Sugiyono. (2017). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung : Alfabeta, CV.

 Richards, J., Platt, J. & Weber, H. (1985). Longman Dictionary of Applied Linguistics. Harlow: Longman. 

 Nurhasanah, N. (2014). PENGARUH BAHASA GAUL TERHADAP BAHASA . Universitas Esa Unggul Jakarta, 7. 

 Koentjaraningrat, 1990. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: PT Rineka Cipta. Noermanzah, (2019). Bahasa sebagai Alat Komunikasi, Citra Pikiran, dan Kepribadian. Bengkulu : Universitas Bengkulu.

 Fajar Nur Annisa, (2020). Pemakaian Bahasa Dalam Masyarakat Tutur Kata Anak Dalam Berkomunikasi Bahasa Indonesia Di Masyarakat

Comments

Popular posts from this blog

irvan tlho

Tugas TLHO - Raisa